Kamis, 07 Maret 2013

Refleksi Pertemuan Pertama


Banyak sekolah di Indonesia menerapkan metode pembelajaran tradisional dimana  guru dianggap sebagai sumber belajar utama yang memberi dan mentransfer ilmu pengetahuan dengan memberikan ceramah. Dalam metode ini siswa hanyalah sebagai obyek yang hanya menerima melihat dan mendengarkan ketika guru menyampaikan materi dan keaktifan siswa kurang muncul. Guru cenderung menjadi otoriter dan terkesan sombong akan ilmunya. Dalam sistem tradisional guru menganggap bahwa siswa adalah kertas putih bersih yang dapat di buat menjadi seperti apa yang guru inginkan, dan siswa dianggap tidak tahu apa apa dan hanya menjadi pelengkap kalimat guru. Selain itu guru merasa dapat mengemas pelajaran matematika yang dapat menarik siswa dan dapat membuat siswa suka pada pelajaran matematika, padahal rasa suka atau senang itu sepenuhnya hak siswa dan berasal dari diri siswa sendiri yang muncul karena keikhlasan mereka. Metode guru yang tradisional ini berawal dari niat guru untuk mengajar bukan niat untuk melayani belayar siswa dan memfasilitasi belajar siswa.
Pada saat ini metode mengajar tradisional seperti ini perlu diganti pembelajaran yang inovatif, yaitu pembelajaran yang menjadikan siswa menjadi subjek. Guru bukan sebagai sumber pembelajaran melainkan sebagai fasilitator pembelajaran. Dalam memperoleh informasi siswa tidak lagi hanya mendengar dan melihat apa yang disampaikan guru namun siswa berdiskusi dan mencari sendiri informasi atau rumus rumus yang dibutuhkan. Memang untuk mengubah sistem pembelajaran dari pembelajaran tradisional ke metode pembelajaran inofatif sedikit sulit karena metode pembelajaran ini telah menjadi kebiasaan bahkan budaya. Tapi budaya seperti ini bukan lah budaya yang bagus maka perlu kita rubah, dapat diawali dengan perubahan niat dari guru dari brniat untuk mengajar menjadi berniat untuk melayani dan memfasilitasi siswa belajar. Karena matematika itu adalah diri siswa itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar