Jumat, 31 Mei 2013

Refleksi dari Pembelajaran Matematika Seperti Apa yang Kita Harapkan di SD?



Pembelajaran matematika merupakan kegiaatan manusia.sedangkan matematika unuk anak harus dibuat lebih lebih realistis dan dekat dengan pengalaman anak. Pembelajaran matematika merupakan kegiatan kemanusiaan.dalam pembelajaran matematika perlu memberikan kesempatan pada siswa siswa untuk dibimbing dan menemukan kembali matematikanya. Oleh karena itu seorang guru harus dapat menemukan matematikanya. Oleh karena itu seorang guru perlu tau bagaimana urutan agar pembelajaran nya sistematis.berikut adalah urutan pembelajaran matematika yang sistematis menurut Zulkardi yang secara singkat dapat ditulis sebagai berikut
1. Persiapan
Guru memahami masalah yang akan dibahas dan bermacam macam cara penyelesaian yang mungkin dipilih siswa
2. Pembukaan
siswa diperkenalkan masalak yang real dan siswa diminta menyelesaikannya.
3. Proses pembelajaran
Siswa mencoba berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan pengalamanya, dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Kemudian setiap siswa atau kelompok mempresentasikan hasil kerjanya didepan siswa atau kelompok lain dan siswa atau kelompok lain memberi tangggapan terhadap hasil kerja siswa atau kelompok penyaji. Guru mengamati jalannya diskusi kelas dan memberi tanggapan sambil mengarahkan siswa untuk mendapatkan strategi terbaik serta menemukan atauran atau prinsip yang bersifat lebih umum.
4. Penutup
siswa berdiskusi, menarik kesimpulan sendiri dan mengerjakan evaluasi dengan soal matematika formal.

REFLEKSI DARI ELEGI PEMBERONTAKAN PARA SOMBONG

http://powermathematics.blogspot.com/2013/01/elegi-pemberontakan-para-sombong.html#comment-form
Sombong merupakan sikap tercela yang janganlah kita lakukan. Karena pada dasarnya manusia adalah tempatnya kesalahan dan kekurangan. Yang berhak sombong hanyalah Allah karena Allahlah yang mempunyai segalanya. Dalam agama pun kita dilarang untuksombong. Sombong ada banyak anggotanya. Anggota sombong adalah Rasa Percaya Diri (Confident) yang berlebihan, Pembangkangan (Defiant), Takabur (dalam Islam), dan Perasaan Bangga Diri (Pride) yang berlebihan, dan lain sebagainya.

refleksi dari Elegi Merasionalkan Takdir

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-merasionalkan-takdir.html

Takdir adalah sepenuhnya hak Allah dalam menentukannya namun Allah memerintahkan manusia untuk berikhtiar dan berdoa kemudian bertawaqal. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mengubahnya sendiri. Jadi kita juga perlu memperjuangkan hidup kita jangan hanya berpangku tangan menunggu takdir.

refleksi dari Elegi Menggapai Hakekat Senin

http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-menggapai-hakekat-senin.html


Hal yang dapat saya pahami dari Elegi Menggapai Hakekat Senin di atas adalah bahwa suatu persoalan walaupun sederhana dapat dilihat dari berbagai cara dan sudut pandang. Hal tersebut dapat dijadikan bahan renungan bagi calon guru dalam mengajar besok. Jika senin saja dapat dipandang dari berbagai sudut pandang  maka begitu pula pembelajaran di kelas. maka pembelajaran di kelas perlu di lakukan dengan berbagai media dan cara untuk dapat menfasilitasi sudut pandang siswa yang juga berbeda beda.  Sehingga siswa dapat menemukan informasi dengan cara cara yang berbeda pula.

refleksi dari Elegi Perbincangan Para Sama

http://powermathematics.blogspot.com/2010/07/elegi-perbincangan-para-sama.html

Jika didunia ini ada yang berbeda, pasti ada juga yang sama sebagaimana ada siang ada malam, ada natural ada humaniora .Sebenar benarnya sama di pikiran manusia adalah sama yang relatif.  Sedangkan sama yang setinggi tingginya adalah sama yang absolut yaitu sama yang merupakan milik dan kekuasaan Allah SWT.

Elegi Seorang Hamba Menggapai Keputusan



Apabila suatu pengetahuan diperoleh hanya diberitahu olehorang lain maka pengetahuan itu merupakan a priori, pengetahuantersebut bersifatabstrak dan maya. Apabila pengetahuan diperoleh melalui panca indra kita sendiri maka pengetahuan tersebut mrupakan a posteriori. Pengetahuan a posteriori diperoleh dengan mempersepsi.
Setinggi tingginya ilmu adalah keputusan jadi orang belum dapat dikatakan berilmu kalau belum mampu mengambil keputusan.

refleksi dari Elegi Konferensi Para Beda



Segala sesuatu didunia itu pasti berbeda tidak ada yang sama. Karena padahakikatnya stiap apayang di dunia ini memiliki kekhasan masing masing. Vgitu pula dengan peserta didik. Setiap siswa pasti memiliki bakat, kemampuan, minat dan karakter yang berbeda beda. Tugas guru adalah menfasilitasi siswa yang berbeda beda ini secara inovatif sesuai dengan siswanya .Guru membebaskan siswa untuk menemukan informasi sesuai caranya sendiri, jangan hanya memaksakan pada satu cara saja. Guru tidak boleh menyamakan siswa karena jika guru telah menyamakan siswa berarti guru telah terancam oleh mitosnya sendiri. Dan jika guru mengusahakan siswa menjadi sama maka guru telah menjadi mitos yang siap menerkam siswa sebagai korbannya.